Opini  

Dari Ajang Piala Dunia ke Perekonomian: Dukungan Masyarakat Kota Ambon terhadap Tim Nasional Belanda dan Implikasinya pada Perputaran Ekonomi Lokal

Oleh: Dr. Olivia Laura Sahertian, S.E., M.M.
Dosen Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Ambon

Piala Dunia merupakan perhelatan olahraga sepak bola akbar empat tahunan di dunia yang tidak hanya menyajikan pertandingan sepak bola berkualitas tinggi dengan keterampilan tingkat dewa para pemain andalan, tetapi juga menghadirkan berbagai dampak sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat di berbagai negara. Euforia yang muncul selama penyelenggaraan Piala Dunia melampaui batas geografis dan nasionalitas, sehingga masyarakat di berbagai belahan dunia dapat memiliki kedekatan emosional dengan tim nasional tertentu meskipun tidak berasal dari negara yang sama.

Fenomena tersebut juga dapat ditemukan di Indonesia, khususnya di Kota Ambon, Provinsi Maluku, yang dikenal memiliki kecintaan sangat tinggi terhadap sepak bola. Di antara berbagai negara peserta Piala Dunia, Tim Nasional Belanda menjadi salah satu tim yang paling banyak mendapat dukungan dari masyarakat Kota Ambon. Setiap kali Belanda bertanding, masyarakat Ambon menunjukkan antusiasme yang luar biasa melalui berbagai bentuk dukungan, mulai dari penggunaan atribut berwarna oranye, pemasangan bendera Belanda di lingkungan tempat tinggal, penyelenggaraan nonton bersama, hingga konvoi kendaraan.

Fenomena dukungan terhadap Tim Oranje di Ambon telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi. Bahkan bagi sebagian masyarakat Ambon, mendukung Belanda bukan sekadar aktivitas menonton sepak bola, melainkan bentuk ekspresi historis, emosional, dan kultural yang telah berlangsung lama. Hal inilah yang menarik untuk diulas lebih jauh.

Hubungan Historis antara Maluku dan Belanda

Untuk memahami mengapa Belanda memiliki tempat khusus di hati masyarakat Kota Ambon, perlu ditinjau terlebih dahulu hubungan historis yang telah terjalin antara Maluku dan Belanda sejak berabad-abad lalu.

Sejarah mencatat bahwa Maluku merupakan salah satu wilayah yang memiliki hubungan erat dengan Belanda sejak masa perdagangan rempah-rempah pada abad ke-17. Interaksi yang berlangsung selama ratusan tahun tersebut meninggalkan berbagai pengaruh dalam kehidupan sosial, budaya, pendidikan, hingga bahasa masyarakat Maluku.

Selain hubungan kolonial, terdapat pula hubungan sosial yang berkembang melalui diaspora masyarakat Maluku yang menetap di Belanda setelah masa kemerdekaan Indonesia. Banyak keluarga di Maluku yang memiliki kerabat atau hubungan emosional dengan masyarakat Maluku yang tinggal di Belanda. Kondisi tersebut menciptakan kedekatan secara psikologis yang pada akhirnya turut memengaruhi preferensi masyarakat dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola.

Kedekatan tersebut semakin diperkuat dengan adanya sejumlah pemain sepak bola Belanda yang memiliki darah keturunan Maluku. Nama-nama seperti Simon Tahamata, Roy Makaay, Giovanni van Bronckhorst, Tijjani Reijnders, dan beberapa pemain naturalisasi, di antaranya Stevano Lilipaly, Eliano Reijnders Lekatompessy, Kevin Diks Bakarbessy, Joey Pelupessy, serta Ragnar Oratmangoen yang merupakan keturunan Maluku lainnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Maluku, khususnya di Kota Ambon.

Kehadiran beberapa pemain berdarah Maluku yang memperkuat Tim Nasional Belanda di ajang Piala Dunia 2026 ini menciptakan rasa keterikatan yang kuat sehingga masyarakat Ambon merasa memiliki hubungan khusus dengan tim berjuluk Oranje tersebut.

Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep identitas kolektif, yaitu kondisi ketika suatu kelompok masyarakat merasa memiliki kedekatan emosional dengan simbol atau kelompok tertentu karena adanya kesamaan sejarah, budaya, atau pengalaman sosial. Dalam konteks Kota Ambon, Tim Nasional Belanda telah berkembang menjadi simbol yang memiliki makna historis dan emosional yang mendalam.

Budaya Sepak Bola dan Euforia Belanda di Kota Ambon

Sepak bola memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Ambon. Kota Ambon dikenal sebagai salah satu daerah penghasil talenta sepak bola di Indonesia. Kecintaan masyarakat terhadap olahraga ini terlihat dari tingginya partisipasi dalam berbagai kompetisi lokal maupun kegiatan menonton pertandingan sepak bola internasional.

Ketika Piala Dunia berlangsung, suasana Kota Ambon mengalami perubahan yang cukup signifikan. Warna oranye yang menjadi identitas Tim Nasional Belanda dapat ditemukan di berbagai sudut kota. Bendera Belanda dipasang di depan rumah warga, tempat makan, dan tempat umum lainnya. Tidak jarang pula masyarakat membuat dekorasi khusus bernuansa oranye dan Belanda di rumah maupun kendaraan sebagai bentuk dukungan terhadap Belanda.

Saat pertandingan berlangsung, berbagai lokasi di Kota Ambon dipenuhi masyarakat yang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan secara bersama-sama ataupun di rumah masing-masing. Kegiatan nonton bareng menjadi sarana interaksi sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat. Dalam suasana tersebut, masyarakat tidak hanya menikmati pertandingan sepak bola, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, rasa kebersamaan, bahkan tak jarang terjadi adu argumen karena perbedaan pandangan mengenai jalannya pertandingan.

Pertandingan pertama Tim Oranje diawali pada Senin, 15 Juni 2026 subuh pukul 05.00 WIT melawan Jepang yang dijuluki sebagai Tim Samurai Biru dan disebut sebagai “Raja Asia”, sehingga di atas kertas sangat diperhitungkan dengan kekuatan samurainya. Pertandingan selama 90 menit itu berlangsung seru dengan hasil imbang 2-2.

Meskipun hasilnya seri, pawai dan konvoi tetap dilakukan oleh para pendukung setia Tim Oranje. Masyarakat turun ke jalan melakukan konvoi kendaraan, membunyikan klakson, membawa bendera dengan aksi dan gaya masing-masing. Para pendukung pun menunggu dengan penuh antusias pertandingan berikutnya pada tanggal 20 Juni dan 26 Juni 2026.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Tim Belanda dalam pertandingan internasional memiliki nilai emosional yang sangat besar bagi masyarakat Ambon.

Dampak Kemenangan Belanda terhadap Perputaran Ekonomi Lokal

Selain memberikan dampak sosial dan budaya, kemenangan Belanda dalam ajang Piala Dunia juga memiliki pengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat Kota Ambon. Hal ini menjadi tidak kalah penting, terutama di tengah kondisi perekonomian yang kini sedikit lesu.

Dalam perspektif ekonomi, pertandingan sepak bola berskala internasional dapat menciptakan multiplier effect yang meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor usaha.

Ketika Belanda bertanding, terjadi peningkatan konsumsi masyarakat yang cukup signifikan. Warung kopi, rumah makan, kafe, dan tempat hiburan yang menyediakan fasilitas menonton pertandingan biasanya mengalami peningkatan jumlah pelanggan. Masyarakat yang datang untuk menonton pertandingan cenderung membeli makanan dan minuman selama pertandingan berlangsung.

Semakin banyak pertandingan yang dimainkan Belanda, semakin besar pula peluang peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha tersebut. Ada pula masyarakat yang menggelar nonton bareng sehingga banyak orang datang untuk menikmati pertandingan bersama.

Selain sektor kuliner, penjualan atribut sepak bola juga mengalami peningkatan. Jersey Tim Nasional Belanda, syal, topi, bendera, stiker kendaraan, dan berbagai merchandise lainnya menjadi produk yang banyak dicari masyarakat. Pedagang musiman maupun toko olahraga memperoleh keuntungan dari meningkatnya permintaan terhadap produk-produk tersebut.

Aktivitas ekonomi juga terlihat pada sektor jasa. Percetakan dan usaha sablon menerima pesanan pembuatan spanduk, baliho, dan kaos komunitas pendukung Belanda. Penyedia jasa sound system dan layar proyektor mendapatkan tambahan pendapatan dari kegiatan nonton bareng yang diselenggarakan oleh komunitas maupun organisasi masyarakat. Bahkan sektor transportasi memperoleh manfaat melalui meningkatnya mobilitas masyarakat menuju lokasi nobar dan pusat keramaian.

Mari kita melihat fenomena ini dalam kaitannya dengan kenaikan harga Pertamax. Kenaikan harga Pertamax merupakan salah satu faktor ekonomi yang dapat memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, termasuk masyarakat Kota Ambon yang dikenal memiliki antusiasme tinggi terhadap pertandingan Tim Nasional Belanda.

Per 10 Juni 2026, harga Pertamax mengalami kenaikan yang cukup signifikan, dari sekitar Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter atau meningkat lebih dari 30 persen. Dalam kondisi normal, kenaikan harga bahan bakar akan menurunkan daya beli masyarakat karena sebagian pendapatan rumah tangga harus dialokasikan lebih besar untuk kebutuhan transportasi.

Namun, ketika Tim Nasional Belanda bertanding pada ajang Piala Dunia, fenomena yang terjadi tidak selalu mengikuti teori ekonomi secara sederhana. Antusiasme masyarakat Ambon terhadap Belanda sering kali menciptakan perilaku konsumsi yang berbeda karena adanya faktor emosional dan sosial.

Sehari sebelum pertandingan Belanda melawan Jepang, antrean panjang terjadi di hampir semua SPBU. Mungkinkah hal tersebut merupakan dampak peralihan penggunaan bahan bakar, sebagaimana pendapat sejumlah ekonom yang memperkirakan kenaikan harga Pertamax dapat mendorong perpindahan konsumsi ke Pertalite sebesar 7–12 persen akibat efek down-trading, yaitu kecenderungan konsumen memilih alternatif yang lebih murah untuk mengurangi pengeluaran? Ataukah masyarakat sekadar mengantisipasi habisnya bahan bakar, atau memang sengaja mengisi penuh tangki kendaraan untuk konvoi setelah Tim Oranje selesai bertanding?

Jika Belanda mampu menjadi jagoan di Grup F dan melaju ke babak-babak selanjutnya, maka durasi euforia masyarakat Kota Ambon akan semakin panjang. Kondisi tersebut menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar karena aktivitas konsumsi masyarakat berlangsung dalam periode yang lebih lama.

Oleh sebab itu, banyak pendukung Belanda di Ambon berharap agar tim kesayangannya dapat terus memenangkan pertandingan dan bertahan selama mungkin dalam kompetisi.

Analisis Ekonomi terhadap Harapan Kemenangan Belanda

Dari sudut pandang ekonomi lokal, harapan masyarakat Ambon agar Belanda memenangkan setiap pertandingan dapat dipahami sebagai bentuk ekspektasi terhadap keberlanjutan aktivitas ekonomi yang muncul selama perhelatan Piala Dunia berlangsung.

Semakin sering Belanda menang, semakin banyak kesempatan bagi masyarakat untuk mengadakan nonton bareng, membeli atribut baru, serta melakukan berbagai aktivitas sosial yang melibatkan pengeluaran ekonomi.

Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa kemenangan Belanda tidak secara langsung menyebabkan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara permanen. Dampak ekonomi yang muncul cenderung bersifat sementara dan lebih banyak terjadi pada sektor-sektor tertentu yang terkait dengan hiburan, kuliner, dan perdagangan atribut olahraga.

Oleh karena itu, manfaat ekonomi yang diperoleh perlu dipandang sebagai peluang ekonomi musiman yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha lokal. Semakin lama Belanda bertahan dalam turnamen, semakin besar peluang terciptanya perputaran uang di masyarakat.

Keinginan masyarakat Ambon agar Belanda memenangkan setiap pertandingan tidak hanya didasarkan pada kecintaan terhadap sepak bola, tetapi juga berkaitan dengan harapan munculnya aktivitas sosial dan ekonomi yang lebih hidup selama berlangsungnya Piala Dunia.

Dalam konteks pembangunan daerah, Pemerintah Kota Ambon dapat memanfaatkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola sebagai sarana pengembangan ekonomi kreatif. Kegiatan nonton bareng dapat dikombinasikan dengan promosi produk UMKM lokal, festival kuliner, pameran ekonomi kreatif, maupun kegiatan pariwisata.

Dengan demikian, euforia sepak bola tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi yang lebih luas terhadap pembangunan ekonomi daerah. Dengan pengelolaan yang tepat, fenomena ini dapat menjadi salah satu potensi pengembangan ekonomi kreatif berbasis olahraga di Kota Ambon tercinta.

Pada akhirnya, sepak bola telah menunjukkan bahwa sebuah pertandingan dapat menghadirkan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar perebutan kemenangan di atas lapangan. Di Ambon, dukungan terhadap Tim Oranje bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah. Ia adalah perwujudan identitas, solidaritas, nostalgia sejarah, sekaligus harapan akan bergeraknya roda perekonomian masyarakat.

Maka, ketika teriakan “Hup Holland Hup!” kembali menggema dari sudut-sudut Kota Ambon, yang bergema sesungguhnya bukan hanya semangat mendukung sebuah tim, melainkan juga harapan agar kebersamaan tetap terjaga dan ekonomi rakyat terus berdenyut di tengah berbagai tantangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *