AMBON.MASSADANEWS – Salah seorang pendaki dengan inisial X meluruskan sejumlah pemberitaan yang beredar di media daring terkait kejadian saat pendakian di Gunung Simolopu baru-baru ini. Ia menyampaikan kronologi lengkap sekaligus klarifikasi agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat.
Kronologi Kejadian
Sabtu, 6 Juni 2026 – Pukul 15.20 WIT
Sebanyak 22 orang rombongan tiba di Pos 1 menggunakan sepeda motor. Setelah menyiapkan perlengkapan, mereka memulai pendakian menuju Puncak Ewang melalui Pos 2, 3, 4, hingga 5. Sepanjang perjalanan awal, seluruh anggota dalam keadaan sehat dan tidak ada gangguan. Setibanya di lokasi, mereka mendirikan tenda dan beristirahat.
Minggu, 7 Juni 2026 – Pukul 04.00 WIT
Cuaca tiba-tiba berubah drastis menjadi buruk disertai hujan lebat, angin kencang, dan kabut tebal yang membuat tenda basah. Sekitar pukul 09.00 WIT saat cuaca mulai membaik, rombongan berencana melanjutkan pendakian dan terbagi menjadi dua kelompok.
Di perjalanan, salah satu anggota Kelompok 2 mengalami nyeri kaki sehingga tidak dapat berjalan jauh. Kelompok pun terpecah: sebagian lanjut menuju puncak, dan sisanya tetap menemani rekannya.
Kelompok 1 berhasil mencapai tujuan dan kembali ke perkemahan dengan selamat. Sementara itu, sesampainya di Puncak Sipil, seorang anggota Kelompok 2 menunjukkan gejala hipotermia dan langsung ditangani rekan-rekannya. Saat kondisinya membaik dan hendak turun, kejadian serupa menimpa orang lain di lokasi yang sama.
Pertolongan pertama segera dilakukan dan tim di perkemahan diminta mengirim perlengkapan darurat. Tak lama, empat pendaki dari rombongan lain yang lewat turut membantu. Setelah bantuan tiba dan keadaan membaik, mereka kembali ke perkemahan. Namun, di tengah cuaca yang masih tidak bersahabat, korban kedua kembali mengalami gejala hipotermia.
Pukul 20.00 WIT
Melihat kondisi yang belum kunjung membaik, rombongan menghubungi layanan darurat 112 dan mendapatkan nomor kontak Tim BASARNAS Kota Ambon. Setelah melaporkan situasi, mereka diminta menunggu konfirmasi lebih lanjut. Sebagian anggota memilih turun terlebih dahulu, menyisakan 13 orang untuk menjaga korban.
Karena cuaca semakin memburuk dan tidak memungkinkan bertahan lama di ketinggian, kelompok yang tersisa pun memutuskan turun. Sekitar pukul 01.46 WIT, saat mendekati Pos 3, mereka dihubungi Tim BASARNAS untuk memastikan titik lokasi.
Di sekitar Pos 3, rombongan terbagi lagi: 8 orang turun lebih dulu bersama dua korban hipotermia, sedangkan 5 orang lainnya berjalan agak lambat mendampingi pendaki yang nyeri kaki dan gejala asma ringan.
Pukul 02.01 WIT
Rombongan pertama bertemu Tim BASARNAS di jalur antara Pos 2 dan Pos 1. Tim langsung memberikan penanganan medis. Tak lama kemudian, kelompok kedua tiba dan mendapatkan pertolongan serupa.
Pukul 03.05 WIT
Seluruh rombongan berkumpul kembali dengan selamat di Pos 1. Kedua korban dibawa ke Rumah Sakit Tulehu hanya untuk pemeriksaan lanjutan. Setelah dinyatakan sehat dan stabil, mereka diperbolehkan pulang dan berpisah dengan Tim BASARNAS sekitar pukul 05.15 WIT.
Klarifikasi Fakta
Terkait pemberitaan yang berkembang, rombongan menegaskan hal-hal berikut:
1. Tidak tersesat maupun terjebak di gunung; jalur pendakian tetap jelas dapat dilalui.
2. Hanya 2 orang yang mengalami gejala hipotermia, bukan 13 orang seperti yang diberitakan.
3. Tim BASARNAS tidak menjemput dari puncak, melainkan ditemui di jalur dekat Pos 2 yang hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari Pos 1.
4. Pendakian dimulai dari Tulehu, bukan dari Liang.
5. Tidak ada yang dirawat inap, hanya dilakukan pengecekan tekanan darah dan suhu tubuh.
Rombongan juga menegaskan bahwa ini bukan pengalaman pertama mereka mendaki gunung. Semua persiapan dilakukan jauh hari, meliputi logistik lengkap, obat-obatan, selimut darurat, dan perlengkapan keselamatan lainnya.
“Kejadian ini menjadi pembelajaran agar kami lebih waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem. Kami juga meminta maaf jika menimbulkan kekhawatiran, dan anggapan bahwa kami naik tanpa persiapan atau sekadar tren itu tidak benar,” tutupnya.(MSD).












