Marceau Haurissa Nahkodai Polnam 2026–2030: Mandat Integritas dan Kolaborasi untuk Lompatan Baru

MASSADA, Ambon — Dinamika pergantian kepemimpinan di lingkungan Politeknik Negeri Ambon akhirnya mencapai titik akhir. Melalui forum senat yang berlangsung tertutup dan penuh pertimbangan strategis, nama Marceau Armstrong Fillex Haurissa, S.T., M.Eng. resmi ditetapkan sebagai Direktur untuk periode 2026–2030. Rapat tersebut dipimpin oleh Lory Marcus Parera dan menjadi momentum penting dalam menentukan arah masa depan institusi vokasi ini.

Haurissa tampil unggul dalam proses pemilihan dengan dukungan mayoritas suara. Ia mengantongi 32 suara, meninggalkan dua kandidat lain, Pieter Lourens Frans dan Noce Novi Tetelepta, yang masing-masing memperoleh 10 dan 6 suara. Komposisi suara tersebut mencerminkan akumulasi pilihan dari unsur senat serta representasi pemerintah pusat yang diwakili Agus Sunarya Sulaeman.

Dalam pidato perdananya, Haurissa tidak menempatkan kemenangan ini sebagai capaian personal, melainkan sebagai amanah kolektif. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan di institusi pendidikan bukan sekadar posisi administratif, tetapi ruang pengabdian yang menuntut konsistensi nilai, integritas, serta keberanian untuk berinovasi. Menurutnya, transformasi Polnam hanya dapat diwujudkan melalui kerja bersama lintas elemen kampus dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Lebih jauh, Haurissa juga menunjukkan sikap kenegarawanan dengan memberikan apresiasi kepada para pesaingnya. Ia menilai proses kompetisi yang berlangsung mencerminkan kedewasaan akademik dan komitmen terhadap nilai kebersamaan. Semangat inilah yang diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun sinergi ke depan.

Nada serupa disampaikan oleh Frans dan Tetelepta. Keduanya menerima hasil pemilihan sebagai keputusan institusional yang final, sekaligus menyatakan kesiapan untuk mendukung kepemimpinan baru. Bagi mereka, keberlanjutan dan kemajuan Polnam jauh lebih penting dibandingkan dinamika kontestasi yang telah berlalu.

Dari sisi pemerintah, pesan strategis turut mengemuka. Perwakilan kementerian menekankan pentingnya keselarasan antara arah kepemimpinan kampus dengan kebijakan nasional di sektor pendidikan tinggi, khususnya dalam penguatan sains dan teknologi. Perguruan tinggi vokasi, termasuk Polnam, dituntut semakin responsif terhadap kebutuhan industri serta mampu menghasilkan lulusan yang adaptif dan kompetitif.

Komitmen dukungan pun ditegaskan baik dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia maupun peningkatan kualitas pembelajaran berbasis inovasi teknologi. Hal ini menjadi sinyal bahwa Polnam berada dalam orbit kebijakan strategis nasional yang lebih luas.

Dengan estafet kepemimpinan kini berada di tangan Haurissa, ekspektasi publik pun menguat. Polnam diharapkan tidak hanya bertahan sebagai institusi pendidikan vokasi, tetapi juga tumbuh menjadi pusat unggulan yang progresif, kolaboratif, dan relevan dengan tuntutan zaman. Sebuah babak baru telah dimulai—dan arah langkahnya kini bergantung pada bagaimana kepemimpinan ini menerjemahkan visi menjadi karya nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *