AMBON.MASSADA.NEWS – Universitas Pattimura (Unpatti) mengukuhkan Prof. Dr. Wilma Aklhary sebagai Guru Besar Linguistik, dengan visi mentransformasi pendidikan bahasa di Maluku. Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Wilma menekankan pentingnya pendekatan linguistik multikultural yang adaptif terhadap Revolusi Industri 4.0, berbasis kearifan lokal, dan berorientasi pada peningkatan kompetensi global.
Pendidikan 4.0: Lebih dari Sekadar Bahasa
Prof. Wilma menyoroti bahwa pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Jerman, harus melampaui tata bahasa dan kosakata. “Pembelajaran harus dirancang kontekstual dan autentik, agar peserta didik mampu memahami bahasa sebagai sistem makna sekaligus praktik sosial budaya,” ujarnya. Kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital menjadi kunci.
Linguistik: Fondasi Berpikir Kritis dan Identitas Lokal
Menurut Prof. Wilma, linguistik adalah fondasi penting untuk membangun kesadaran berbahasa dan kemampuan berpikir kritis. Ia mengutip Goethe, “Wer fremde Sprache nicht kennt, kennt nichts von seiner eigenen” (barang siapa tidak mengenal bahasa asing, ia tidak mengenal bahasanya sendiri), untuk menegaskan bahwa belajar bahasa asing justru memperkuat identitas lokal. Mahasiswa Maluku yang mempelajari bahasa Jerman akan semakin menghargai bahasa ibu sebagai warisan budaya.
Multikulturalisme: Investasi Harmoni Maluku
Sebagai daerah dengan keragaman etnis, bahasa, dan budaya, Maluku membutuhkan pendidikan multikultural untuk menumbuhkan keadilan, kesetaraan, dan mencegah konflik berbasis identitas. Integrasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran bahasa menciptakan ruang dialog antaridentitas dan memperkokoh kohesi sosial.
Inovasi Pedagogik: Mengembangkan Potensi Lokal
Prof. Wilma telah mengembangkan model-model pembelajaran inovatif yang kontekstual dengan Maluku. Salah satunya adalah model pembelajaran ISLANDS yang meningkatkan kemampuan siswa memandu wisata di Ambon, Saparua, dan Haruku. Model ini mengintegrasikan kearifan lokal dan teknologi digital, sehingga siswa mampu mempresentasikan objek wisata dalam bahasa Jerman secara komunikatif. Inovasi ini mendukung pengembangan sektor pariwisata dan meningkatkan daya saing generasi muda Maluku di tingkat internasional.
Dampak Strategis bagi Maluku
Pidato Prof. Wilma bukan hanya pemaparan akademik, tetapi juga peta jalan transformasi pendidikan Maluku. Visinya diharapkan dapat mewujudkan generasi muda Maluku yang kritis, kreatif, dan percaya diri, serta menumbuhkan SDM pariwisata yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing.
Pendidikan: Jembatan Global dan Lokal
Prof. Wilma menegaskan bahwa pendidikan bahasa yang inovatif dan multikultural adalah jembatan yang menghubungkan Maluku dengan dunia, tanpa tercerabut dari akar budayanya sendiri. Pengukuhan ini adalah peneguhan komitmen Unpatti dalam membangun Maluku yang unggul, berdaya saing global, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal. (MSD).
Prof. Wilma Aklhary: Pendidikan Linguistik Multikultural untuk Kemajuan Maluku di Era 4.0.(MSD).












